DAPATKAN INFORMASI TERBARU PAYONEER DI BLOG INI

Pulsa Murah Termurah

Distributor pulsa murah dan terpercaya. Server cepat dan stabil. Harga pulsa semurah h2h. Pelayanan memuaskan. Mari bergabung bersama kami - pulsamurahtermurah.blogspot.com

Jadikan Hp Anda Mesin Uang

Dengan bergabung bersama kami Anda akan mendapatkan penghasilan tak terbatas dari bisnis pulsa. Ayo segera daftarkan no hp Anda dan jadikan hp Anda mesin penghasil uang secara terus-menerus.

Didukung Server Yang Handal

Proses transaksi melalui kami didukung oleh sistem sever yang handal,berkualitas, teruji, cepat, dan keamanan yang terjamin. (image by multipulsa)

Mitra Bisnis Anda Menuju Kesuksesan

Mari bergabung bersama kami dan jadilah mitra bsinis yang saling menguntungkan demi kesuksesan bersama. Sebuah bisnis yang akan menjalin kerjasama luar biasa. (image by snobtopia)

Satu Tempat Dengan Tiga Informasi

Selain pusat bisnis pulsa murah, kami juga akan memberikan info bisnis online dan seputar info menarik.

Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Oktober 2012

Awalnya Gratisan, Omzet Milyaran

Yohanes Auri

Keahlian, kerja keras, dan strategi bisnis yang tepat mampu mengantarkan setiap orang kepada kesuksesan. Itulah yang sekarang dicapai Yohanes Auri. Ia mampu menjadi miliarder muda melalui usaha jasa desain grafis berbendera PT Flux Asia Solusindo.

Usia belia tak dapat menghambat seseorang untuk mencapai kesuksesan. Dengan kemampuan mengasah keahlian, kerja keras, dan strategi bisnis yang tepat, seorang anak muda bisa saja mendapat sukses dalam bisnis.

Salah satunya adalah Yohanes Auri yang berhasil mengibarkan PT Flux Asia Solusindo.  Hanya dalam kurun waktu lima tahun, sang pemuda yang usianya belum genap kepala tiga ini sudah bisa menggemukkan omzet usaha jasa desain grafisnya hingga miliaran rupiah.

PT Flux Asia Solusindo – disingkat Flux Design – merupakan usaha yang bergerak di bidang desain grafis. Jasa yang diberikan antara lain pembuatan annual report, kalender, company profile, multimedia animation, corporate identity, web design, editorial design, dan branding.

Hingga saat ini Auri sudah memiliki dua ratusan klien korporasi. Di antaranya, BII, BNI, Bank of China, Bank of Tokyo, Bank Sumitomo (BSMI), Asuransi Jasindo, Adira Insurance, Avrist Assurance, Erdikha Sekuritas, NISP Sekuritas, Agung Podomoro Group, Adhi Realty Group, Menara MTH, LEADS Property, Procon Indah, BP Migas, Pertamina, Astra Agro, dan Tjokro Group.

Dengan portofolio klien yang banyak dan berkelas itu, Auri optimistis bisa melipatgandakan omzetnya tahun ini. “Tahun lalu hanya satu digit (miliar), tahun ini harapannya bisa dua digit,” katanya. Menjelang akhir tahun seperti sekarang, pesanan desain dan cetak kalender korporasi sudah berdatangan.

Kesuksesan Auri tidak didapat dengan mudah. Dia merintis usaha ini sejak kuliah Desain Komunikasi Visual di Universitas Bina Nusantara, Jakarta. “Sejak kuliah saya sudah menjadi freelancer desain, dapat klien pertama tahun 2004. Ada teman yang pesan logo kafe, honornya waktu itu Rp 8 juta,” kata anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Sambil kuliah, Auri menggarap pesanan desain di kamarnya yang berukuran 4x4 meter. Komputer yang digunakan pun masih komputer tabung berprosesor Pentium III. “Saya bukan dari keluarga berada. Tidak mungkin minta orangtua untuk membeli komputer canggih,” kata Auri yang anak pemilik toko suku cadang ini.


Desain gratisan

Tahun 2006, Auri lulus kuliah dan bertekad untuk tetap menjalankan usahanya itu dengan bendera Flux Desain. Ternyata dewi fortuna datang. Ada jemaat gereja yang menyukai desain majalah gratisan yang dibuatnya. “Dia pengurus Certificate Wealth Manager Association (CWMA). Inilah proyek besar pertama saya,” kenangnya. Asosiasi itu memintanya membuat desain undangan dan buku kelulusan. Nilai proyeknya waktu itu sebesar Rp 20 juta.

Pada saat acara CWMA berlangsung, Auri pun menebarkan kartu nama pada bos-bos bank yang mengikuti acara CWMA tersebut. “Saya berharap dengan perkenalan personal ini bisa mendapatkan klien besar,” katanya sambil terbahak. Auri juga memberanikan diri merekrut seorang karyawan meski masih menggunakan kamarnya sebagai ruang kerja. Selama 2006, ia hanya berhasil mendapatkan tiga klien korporasi, sisanya hanya proyek kecil.

Auri lantas menerapkan sistem jemput bola pada calon klien. Dia menawarkan jasa ke lebih dari 40 perusahaan, baik melalui mesin faksimile maupun telepon. Dia memutuskan untuk mengincar klien korporasi lantaran lebih strategis membesarkan usaha. “Sudah pasti banyak yang menolak. Nama perusahaan kami belum besar,” ujar suami dari Desiana ini.

Sampai tahun 2008, Auri masih merangkap jabatan, baik sebagai kurir, pemasar, bagian keuangan, desainer, sampai tukang tagih. “Ya, mesti nagih karena klien biasanya tidak langsung bayar penuh. Itu terjadi sampai sekarang,” katanya. Proyek makin banyak, omzet sudah mencapai ratusan juta.

Tahun 2009, Auri merenovasi kamarnya untuk diperlebar menjadi kantor lantaran sudah memiliki tujuh karyawan. “Tahun 2010, saya bikin perusahaan untuk mendapatkan proyek secara tender. Klien-klien besar pun kami peroleh,” katanya.

Nilai sekali proyek desain tidak tanggung-tanggung, mulai ratusan juta hingga miliaran. Maka, ia memasang target tinggi untuk omzet Flux Design. “Tahun ini harapannya bisa mencapai lebih dari Rp 20 miliar,” kata pria kelahiran Jakarta, 8 Februari 1985 ini.

Pada tahun lalu, Auri memindahkan kantornya ke sebuah ruko dua lantai. “Di tahun yang sama, saya mendirikan Maunge-print.com, sebuah usaha digital printing. Ini sebagai sinergi usaha karena biaya percetakan desain lebih murah dan perputaran uang di bisnis ini juga lebih cepat,” katanya.

Auri juga mulai memisahkan usaha percetakan digital dengan usaha jasa desain. Tahun ini, dia memindahkan kantor Flux Design ke Puri Kembangan, Jakarta Barat. “Puji Tuhan, saya sudah bisa membeli rumah secara tunai dan dijadikan kantor. Target saya, di 2015 sudah bisa pindah di gedung perkantoran,” katanya.         

Sumber: kontan.co.id

Sabtu, 06 Oktober 2012

Lo Kheng Hong, ‘Warren Buffett Indonesia’

Karena kepiawaiannya mereguk keuntungan berlipat ganda dari pasar saham, ia dijuluki sebagai “Warren Buffett Indonesia.” Lo Kheng Hong, demikian nama pria berusia 52 tahun itu, tak hanya lihai memilih saham-saham yang mampu menghasilkan gain besar. Ia juga mahir memosisikan diri di lantai bursa, baik saat pasar bearish maupun bullish.



Lo Kheng Hong Indonesia
Lo Kheng Hong, 'Warren Buffet Indonesia'

Investor di pasar saham kebanyakan ikut-ikutan dan tidak mengerti saham apa yang dibeli. Kebanyakan orang panik karena mereka tidak tahu apa yang mereka beli. Semakin cepat panik seorang investor, semakin menunjukkan bahwa ia tidak tahu apa-apa,” kata Lo Kheng Hong kepada wartawan Investor Daily Nurfiyasari dan Abdul Aziz serta pewarta foto Eko S Hilman di Jakarta, baru-baru ini.

Seperti Warren Buffett, sang maestro saham di Wall Street yang menjadi idolanya, ayah dua anak berpembawaan kalem dan rendah hati ini juga tergolong tipe investor jangka panjang yang hanya sesekali saja menjadi trader.

Ia bahkan bukan tipe investor yang setiap saat memelototi layar komputer atau melengkapi diri dengan handphone canggih untuk melihat pergerakan harga saham. ”Kalau trading, dapatnya receh dan bisa bikin stres. Kalau pegang saham dalam jangka panjang, dapat uangnya besar,” ujar Lo Kheng Hong.

Kematangan, kecerdasan, ketenangan, dan kesabaran telah menjadikan Lo Kheng Hong sebagai pemain saham sejati. Berkat itu pula ia berhasil lolos dari krisis moneter 1997-1998, bahkan kemudian menangguk keuntungan hingga 150.000%.
“Waktu krisis 2008, saya sempat jatuh. Malah sewaktu krisis 1997-1998, saya sempat jatuh hingga uang saya tinggal 15%. Tapi uang itu saya tukar ke saham. Akhirnya uang saya meningkat 150.000% sampai saat ini,” tuturnya.

Yang unik, aset kekayaan Lo Kheng Hong hampir seluruhnya dalam bentuk saham sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ia sama sekali tidak tergoda untuk mendiversifikasi investasinya ke instrumen lain, seperti emas, properti, atau kendaraan. Bahkan, mantan kepala cabang Bank Ekonomi ini sama sekali tak tertarik untuk mendirikan perusahaan, termasuk perusahaan sekuritas.

“Saya hanya punya 15% dana cash untuk jaga-jaga supaya kalau terjadi krisis saya masih punya uang untuk membeli saham. Saya tidak bekerja, tidak punya perusahaan, tidak punya pelanggan seorang pun, tidak punya karyawan seorang pun, dan tak punya bos. Hanya punya seorang sopir dan dua pembantu,” papar Lo Kheng Hong yang sudah 22 tahun bermain saham dan asetnya disebut-sebut bernilai triliunan rupiah.

Apa saja tips Lo Kheng Hong hingga ia mampu mengeduk keuntungan besar dari pasar saham? Bagaimana harus bersikap saat pasar mengalami bullish, bearish, atau crash? Berikut petikan lengkap wawancara dengan pria yang mengakuberasal dari keluarga tak mampu dan kelak berniat menyumbangkan kekayaannya kepada fakir miskin tersebut.

Anda punya saham apa saja?
Saya punya saham 30 emiten, antara lain di Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI), dengan kepemilikan 8,29% lebih. Saham saya banyaknya bukan di LQ45. Kepemilikan saya di saham lain di bawah 5%. Saya tipe investor jangka panjang. Kalau trading, dapatnya receh, kalau jangka
panjang dapat uangnya besar. Saya pegang saham ini sudah enam tahun. Saya beli tahun 2005 seharga Rp 250 dan harganya sempat menyentuh Rp 31.500. Belum saya jual, padahal gain-nya sudah 12.600%.

Cara Anda memilih saham?
Saya lihat manajemen. Apakah menerapkan good corporate governance (GCG) atau tidak.
Saya cari dari kompetitornya, biasanya mereka tahu. Saya cari tahu agar tidak beli kucing dalam karung, karena ini menyangkut harta saya. Jangan membeli sesuatu yang tidak kita tahu. Lihat manajemen, apakah pengelolanya jujur atau tidak. Jangan sampai pengelolanya suka ambil uang perusahaan, sehingga saya sebagai sleeping partner dirugikan. Istilahnya, yang menjadi pertimbangan pertama adalah manajemen, kedua manajemen, ketiga manajemen, baru yang lain. Kemudian lihat sektor usahanya, bagus atau tidak. Ada sektor yang kurang menarik, misalnya sepatu, tekstil, dan garmen. Tapi ada juga yang menarik, seperti sawit dan pakan ayam. Orang banyak makan ayam karena ayam merupakan sumber protein termurah dan dampak negatifnya terhadap kesehatan lebih rendah. Perhatikan juga apakah emitennya mengalami pertumbuhan atau tidak.

Kriteria pertumbuhan, konkretnya seperti apa?Ada empat tipe perusahaan. Pertama, yang rugi terus, yang kadang untung dan kadang merugi, kemudian yang untung besar terus, tapi stagnan. Ada juga yang growing secara berkala, misalnya dari Rp 2 triliun, Rp 5 triliun, dan seterusnya. Ini yang saya cari. Lihat kinerjanya lima tahun ke belakang. Biasanya kalau lima tahun ke belakang tumbuh, ke depannya mengalami hal sama. Kalau sudah lima tahun berturut-turut growing, tandanya itu super company.

Setelah melihat fundamental emiten, apa lagi?
Harga. Saya lihat dari price to earning ratio (PER)-nya. Jangan bilang saham A karena harganya Rp 250 dibilang murah, dan saham B yang harganya Rp 70.000 dibilang mahal. Maksudnya, saham yang harganya Rp 70.000 bisa lebih murah dibanding saham yang harganya Rp 250. Kita lihat kemampuan emitennya dalam membukukan keuntungan.

Berapa PER yang ideal saat membeli suatu saham?
Saya pikir, yang reasonable untuk dibeli yaitu yang PERnya di bawah lima kali, itu sangat menarik dan potensial. Tapi biasanya perusahaan yang sudah baik dan manajemennya bagus, PER-nya sudah di atas 10 kali.

Kapan saat paling tepat masuk pasar?
Yang paling bagus membeli saham adalah saat sedang krisis seperti di Yunani, Eropa, dan AS. Ada pepatah lama yang tidak perlu dilupakan, buy on weakness. Dan, harus be greedy when others are fearful dan sebaliknya, be fearful when others greedy.

Bukankah sulit menerapkan filosofi tersebut?
Saya banyak baca buku tentang Warren Buffett. Saya belajar dari orang yang sudah terbukti berhasil investasi di pasar saham. Dia sudah membuktikannya, bahkan menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Nggak mungkin kan kalau saya belajar dari Bernard Madoff? Ha, ha, ha, ha...Ternyata orang seperti Madoff, mantan bos bursa Nasdaq tapi tidak bisa mengelola uang nasabah. Ini menunjukkan bahwa dia hanya tahu semua peraturan di bursa saham, tetapi tidak mengetahui bagaimana cara menjadi kaya di pasar saham.

Berarti, kuncinya ada di mental?
Mental bisa bagus saat kita tahu apa yang kita beli. Kebanyakan orang panik karena mereka tidak tahu apa yang mereka beli. Saya berikan ilustrasi. Waktu saya ke Harvard University, saya tanya biaya kuliahnya berapa? Ternyata bisa sampai US$ 40.000. Dengan belajar seharga US$ 40.000, kita bisa menjadi orang pintar. Tapi di pasar saham, kita sudah habiskan puluhan miliar rupiah belum tentu jadi pintar, malah bisa tambah bingung, seperti Madoff yang sudah menghabiskan
uang masyarakat US$ 60 miliar. Intinya, pintar saja tidak cukup. Untuk menjadi investor yang kuat, kita harus mengetahui perusahaan satu per satu.

Jadi, Anda tipe investor fundamental?
Saya 100% fundamental karena lihat manajemennya atau pertumbuhan perusahaan. Kalau teknikal, hanya grafik, semuanya diabaikan. Saya yakin itu tidak benar. Tapi memang harus selektif. Dari 400-an saham yang ada di bursa domestik, cukup banyak yang fundamentalnya bagus. Terkadang, ada yang terjebak.

Anda tidak memantau pergerakan harga saham setiap saat?
Falsafah hidup saya adalah bagaimana menjadi kaya sambil tidur. Kenapa kita pusing? Karena beli saham yang tidak kita ketahui. Ada yang tidak bisa tidur karena PER sahamnya 100 kali atau 200 kali. Lalu, kenapa kita tidak bisa tidur kalau PER-nya hanya lima kali?

Bukankah faktor nonfundamental sering menentukan?
Saya lihat investor di pasar modal kebanyakan ikut-ikutan. Saat market mengalami booming, semua masuk. Saat market buang-buang saham, mereka ikut-ikutan. Mayoritas hanya ikut-ikutan dan tidak mengerti apa yang dibeli. Belajarlah dari orang yang sudah berhasil. Jangan percaya kalau ada yang bilang dapat untung besar saat IHSG turun. Hebat sekali. Warren Buffett saja mengalami kerugian saat pasar turun.

Anda berinvestasi pada instrumen selain saham?
Tidak, hanya saham. Hampir semua uang saya ada di pasar modal. Dana tunai saya hanya 15%, sisanya portofolio saham. Itu untuk antisipasi kalau pasar modal kita jatuh, sehingga saya masih bisa beli saham lagi. Saya membiayai hidup sehari-hari dari dividen. Selain itu, misalnya harga saham yang saya beli bulan lalu Rp 610, sekarang harganya Rp 2.375, kemudian saya jual. Awalnya saya berniat menahannya untuk jangka panjang. Tapi kalau untungnya sudah 300% dalam sebulan, saya lepas. Untuk emiten yang bagus sekali, tetap saya keep.

Saat krisis moneter 1997-1998 dan krisis finansial 2008, Anda mengalami kerugian juga?Saya sempat mengalaminya juga. Waktu krisis 2008, saya sempat jatuh, tapi tetap be greedy when others are fearful. Malah sewaktu krisis 1997-1998, saya sempat jatuh hingga uang saya tinggal 15%. Tapi uang itu saya tukar ke saham, karena saya
tahu pasar modal akan naik lagi. Dan, itu terbukti. Akhirnya uang saya meningkat 150.000% sampai saat ini.

Sumber : Semua Bisa Jadi Investor